Sejarah Sepakbola Unforgettable Abad 21

0 Comments

Sejarah Sepakbola

Sejarah Sepakbola

Bagi generasi 90’an yang baru saja mengenal sepakbola di masa Sejarah Sepakbola itu tentu sangat lekat dengan nama-nama Sejarah Sepakbola seperti Frank Rijkaard, Gabriel Batistuta, Paolo Maldini, marco Van Basten, Clarence Seedorf, ataupun Roberto Baggio. Selain itu, generasi 90’an pasti sangat mengenal klub-klub Tangguh di masa itu seperti AC Milan, SS Lazio, Fiorentina, Inter Milan, Juventus, atau AS Roma.

Ya! Sebuah ikatan yang sangat kuat antara sepakbola Italia dan klub idola masa kecil. Seandainya ditanya, coba sebutkan 5 klub Liga italia tentu anak-anak 90’an mampu menjawab dengan cepat dan tepat. Pesona Liga Italia di masa-masa itu memang sangat luar biasa.

Tidak hanya menyedot perhatian publik Sejarah Sepakbola Italia saja melainkan perhatian dunia. Semua orang selalu menantikan pertandingan Liga Italia yang digelar setiap pekannya, dan berharap menjadi saksi dari para “penyihir” lapangan hijau dengan trik, kemampuan serta tampilan yang atraktif.

“The Magic of Serie-A Liga Italia” Sejarah Sepakbola pantas disematkan pada hingar binger Liga Italia pada masa itu. Gairah klub-klub Serie-A ternyata menular pada timnas sepakbola Italia. Mereka mampu menampilkan permainan ala Cattenacio, meskipun pada akhirnya gagal juara karena kalah di adu penalty melawan Brasil di final Piala Dunia 1994.

Meskipun timnas kalah di partai final, namun hal ini tidak menurunkan animo para pecinta sepakbola. Ya, Liga Italia tetap mendapat tempat tersendiri di mata para pecinta sepakbola. Para fans di seluruh dunia tetap menantikan sihir-sihir sang maestro lapangan hijau Serie-A Italia.

Diakui atau tidak, kompetisi Negeri Spaghetti sedang mengalami masa kejayaan di era Sejarah Sepakbola 90’an. Mengapa demikian? Banyak faktor yang mempengaruhi seperti banyaknya pelatih-pelatih top dunia di masa itu yang menjadi juru taktik di klub-klub raksasa Italia.

Sebut saja Marcello Lippi di Juventus (1994-1999), Fabio Capello di AC Milan (1991-1996), Giovanni Trapattoni di Fiorentina (1998-2000). Mereka adalah nama-nama popular pelatih asal Italia yang turut membesarkan Liga Italia karena menangani klub-klub yang berjuluk “Sette Magnifico “ –

Ya, kisah di atas hanyalah segelintir kenangan dari masa kejayaan Liga italia. Penurunan Liga Italia terjadi selama hampir satu deKade terakhir. Hingar binger Sejarah Sepakbola Serie-A yang dulunya penuh dengan nuansa kejayaan, sorakan kemenangan para ultras, dan tropi juara kini berubah menjadi nyanyian sumbang para supporter tim untuk klub mereka.

Tidak hanya itu drama demi drama bersamaan dengan gerbong-gerbong skandal mafia sepakbola terus menerus terungkap di Serie A dan menggerus “The Beauty of Serie A”.  Sebuah penurunan yang fantastis dan terjadi dalam waktu yang sangat singkat dalam Sejarah Sepakbola.

Tidak hanya itu, klub-klub Italia yang selalu tampil dominan di kancah Liga Champions Eropa dan merajai di era 90 án kini tak ubahnya hanya menjadi pelengkap, ya sang singa sedang terluka, sang singa Sejarah Sepakbola sedang tertidur.

Tidak hanya masalah masalah di atas suporter-suporter klub Liga Italia juga selalu tertimpa masalah rasisme. Salah satu contoh kasus yang paling terkenal adalah rasisme pada Mario Balotelli. Sang suporter mendapatkan nyanyian rasis Sejarah Sepakbola saat dirinya membela AC Milan.

Penurunan demi penurunan tidak hanya dari segi prestasi namun juga keuangan membuat pamor Liga Italia semakin anjlok. Hal ini juga dibarengi dengan krisis keuangan yang melanda klub-klub Liga Italia selama hampir satu dekade terakhir.

Banyak klub yang akhirnya meanggung hutang dalam jumlah yang fantastis dan berisiko menyebabkan klub tersbut bangkrut. Dan contoh nyata Sejarah Sepakbola itu hadir saat AC Parma hanya senilai Rp 14.000,- di tahun 2016.

Penurunan jumlah suporter yang datang ke stadion juga terus terjadi dan salah satu pencapaian rataan penonton paling sedikit terjadi pada musim kompetisi 2006/2007, saat hanya 18,756 orang/pertandingan. Pertanyaannya kini, mampukah Liga Italia kembali berjaya? Ataukah semakin menurun? Kita nantikan saja kejutan yang terjadi di masa depan Sejarah Sepakbola.

Sejarah Sepakbola Terbaik Hingga Terpopuler

Di era 90’ hingga 2000’ an persaingan Liga Primer Inggris selalu menjadi milik para tim raksasa mapan. Sebut saja Manchester United, Arsenal, Liverpool, dan Newcastle United. Tiga raksasa papan atas Sejarah Sepakbola Liga Primer Inggris yang selalu merajai perebutan gelar dari tahun ke tahun.

The Big Four adalah sebutan mereka, karena tidak ada lagi tim lain yang mampu menyodok memberikan tekanan. Tim-tim lain seperti Chelsea, Leeds United, Blackburn Rovers ataupun Tottenham Hotspurs tak ubahnya hany amenjadi tim pelengkap.

Memang saat menilik sejarah tercatat hanya Blackburn Rovers (di luar 4 klub di atas) yang mampu menjadi juara dan memutus dominasi Manchester United di tahun 1995. Namun, setelah tahun 1995 dominasi The Big Four tidak pernah tergoyahkan. Mulai tahun 1996 hingga 2004 tercatat hanya dua klub yang mampu menjuarai Liga Primer Inggris Sejarah Sepakbola yaitu Manchester United dan Arsenal.

Sedikit menilik peta persaingan Liga Primer Inggris di masa-masa dominasi The Big Four, sebenarnya di situ ada tim-tim “setengah” kuat macam Chelsea, Tottenham Hotspurs, Leeds United atau Middlesbrough, namun semuanya hanya menjadi pelengkap perebutan gelar juara Sejarah Sepakbola.

Namun, sebuah perubahan di peta persaingan Liga Primer Inggris dimulai pada tahun 2003 tepat kala Roman Abramovich, taipan minyak asal rusia membeli Chelsea dan menjadi pemilik klub Sejarah Sepakbola tersebut.

Chelsea yang akrab disebut dengan “The Blues” sontak mengalami perubahan nasib yang begitu drastis. Klub yang biasanya hanya bertengger di papan tengah Liga Primer Inggris ini langsung menjadi juara pada musim 2005 dan 2006. Tercatat ada beberapa transfer penting Sejarah Sepakbola yang dilakukan oleh Roman Abramovich seperti:

Merekrut Jose Mourinho sebagai Manajer dari FC Porto pada 2004 usai sang manajer Sejarah Sepakbola berhasil mempersembahkan gelar juara Liga Champions untuk FC Porto di tahun tersebut.

Merekrut Striker kelas dunia dari Pantai Gading, Didier Drogba. Merekrut Frank Lampard, gelandang serang andalan timnas Inggris yang kemudian menjadi jenderal lapangan tengah Chelsea. Merekrut Arjen Robben, gelandang lincah timnas Belanda dari PSV Eindhoven dalam Sejarah Sepakbola.

Transfer-transfer jenius tersebut akhirnya memberikan gelar juara Liga Primer Inggris pertama untuk Chelsea dalam 50 tahun terakhir. Sejarah Sepakbola Tidak berhenti sampai disitu Chelsea juga mampu menjadi juara di musim kedua.

The Blues mengalami peningkatan permainan yang sangat signifikan. Gelar juara yang mereka nantikan juga mampu diraih, setidaknya dalam dua musim pertama Sejarah Sepakbola usai dibeli Roman Abramovich Chelsea menjadi tim terkuat Liga Inggris menghancurkan dominasi Manchester United.

Gelontoran dana dari sang taipan minyak ini membuat Chelsea memiliki habitat baru, bukan lagi di papan tengah melainkan di papan atas Sejarah Sepakbola. Roman Abramovich benar-benar berhasil menjadikan The Blues bukan lagi kuda hitam melainkan tim mapan papan atas Liga Primer Inggris.

Investasi uangnya terhadap Chelsea tidak hanya menaikkan pamor klub namun mengubah arah angin perebutan juara. Tercatat usai diambil alih Roman Abramovich Chelsea mampu meraih 5 gelar juara Liga Primer Inggris, 5 gelar juara piala FA, 3 gelar juara Piala Liga Inggris, 1 gelar juara Liga Europa League, dan 1 gelar juara Liga Champions Eropa Sejarah Sepakbola.

Sebuah tonggak sejarah tidak hanya bagi Chelsea melainkan juga bagi Liga Primer Inggris, mengapa demikian? Karena dominasi klub-klub raksasa berhasil dipatahkan dan Chelsea kini menjadi tim raksasa baru di Liga Inggris. Manakala dulu setiap kali melawan Chelsea klub-klub lain hanya memandang sebelah mata, kini mereka sudah kalah bahkan sebelum bertanding melihat Chelsea dan semua pencapainnya usai diambil alih Roman Abramovich.

Nomor 7 di Manchester United menjadi nomor yang sangat keramat. Tercatat nama-nama yang mengenakan selalu menjadi legenda Manchester United Sejarah Sepakbola. Tidak jarang nomor ini hanya dimiliki oleh para pemain dengan mental baja dalam inilah pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah sepakbola.

Mengapa demikian? Dibandingkan dengan klub lain yang mengidentikkan nomor keramat dengan angka 9, 10, atau 11 karena menjadi nomor para penyerang Sejarah Sepakbola, Manchester United justru “dikutuk” agar sang pemilik nomor 7 adalah legenda di klub tersebut.

Dari musim ke musim, tahun ke tahun pemilik nomor 7 selalu sukses membawa beban yang disematkan pada pundaknya. Bahkan mereka selalu dapat memenuhi ekspektasi klub yang begitu tinggi terhadap keramatnya nomor Sejarah Sepakbola ini.

Nama-nama besar di Manchester United selalu hadir dari nomor punggung 7. Memang di klub ini nomor 7 tidak identic dengan striker, pembunuh di depan gawang lawan, ataupun pencetak gol berbahaya. Nomor 7 tercatat tidak hanya dimilik oleh para striker di Manchester United.

Benarkah demikian? Iya. Tercatat ada gelandang dan striker yang pernah mengenakan nomor punggung 7. Tetapi dibalik semua kesuksesannya pemilik nomor punggung 7 juga tak lepas dari kontroversi. Ada yang terkuak ke publik ada juga yang mengendap menjadi rahasia ruang ganti.

Berikut ini ada secuil kontroversi yang pernah terjadi pada pemilik nomor punggung 7 terutama di era 90’an menuju 2000’an kala MU diasuh oleh Sir Alex ferguson Sejarah Sepakbola.

Bila anda penggemar Manchester United tentu anda lekat dengan istilah Sejarah Sepakbola ini. Istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan Sir Alex Ferguson yang meneriaki pemainnya tepat di depan wajahnya karena dianggap salah melaksananakan instruksinya atau bahkan menjadi biang masalah tim dalam satu pertandingan Sejarah Sepakbola.

Peristiwa ini menimpa nomor 7 andalan MU pada masanya yaitu David Beckham. “Becks” (sebutan Beckham) mendapatkan perlakuan ini kala MU kalah melawan Real Madrid di fase gugur Liga Champions 2003.

MU yang saat itu bermain di kendang El Real harus mengakui keunggulan tuan rumah 3-1 dan Beckham diklaim sebagai sumber masalah oleh Sir Alex Ferguson Sejarah Sepakbola.

Usai mendapatkan “Hair Dryer Treatment” terjadi sedikit salah paham antara keduanya dan Becks menapatkan lemparan sepatu di kepala yang membuatnya pendarahan. Hal ini juga diungkapkan oleh Sir Alex di buku autobiografinya.

Sejarah Sepakbola

Sejarah Sepakbola

Sejarah Sepakbola Jarang Diketahui Fans

Siapa yang tidak kenal Eric “King” Cantona? Selama membela panji Manchester United dia mempersembahkan sejumlah trofi bergengsi bagi Manchester United dan mencetak gol-ol spektakuler. Cantona dilabeli sebagai “King” karena tingkah lakunya Sejarah Sepakbola yang memang unik.

Ya, dia tidak dapat dibantah oleh siapapun, temperamen, emosional, dan ambisius adalah ciri khasnya. Beberapa kali pula dia terlibat adu mulut dengan lawan saat pertandingan Manchester United.

Namun, memori Sejarah Sepakbola yang paling dikenang sepanjang sejarah Cantona membela MU tentu tendangan kungfunya pada fans Crystal Palace yang membuatnya terkena akrtu merah dan diusir keluar lapangan oleh wasit kala itu.

Insiden ini sendiri juga membuat Cantona mendapat larangan bertanding selama beberapa pekan oleh FA (PSSI-nya Inggris). Sir alex sendiri menyayangkan tindakan Sejarah Sepakbola ini, namun dia memaklumi karena insiden itu juga dipicu oleh aksi provokatif fans Crystal Palace pada Cantona.

Nomor punggung 7 tidak hanya identik dengan nama besar dan prestasi setidaknya itu yang harus dicatat. Semuanya terjadi karena satu semboyan yang diterapkan oleh Sir Alex Ferguson: “tidak ada satupun pemain yang lebih besar daripada klub”.

Sebuah pesan moral Sejarah Sepakbola agar setiap pemain tidak tinggi hati dan merasa lebih hebat dari klub tempat dia bernaung dalam sejarah singkat sepakbola.

Manchester United adalah klub yang identic dengan permainan yang atraktif, menyerang, dan menghasilkan banyak gol.

Tidak jarang bahkan klub ini mencetak lebih dari 3 gol dalam satu pertandingan. Permainan yang luar biasa, penuh determinasi, dan penuh penetrasi adalah ciri yang selalu ditampilkan The Red Devils pada hampir seluruh pertandingan yang dimainkan utamanya di era Sejarah Sepakbola Sir Alex ferguson.

Manchester United tidak pernah tidak menyerang karena menyerang adalah kebutuhan utama. Menyerang, cetak banyak gol, maka datanglah kemenangan. Hal Sejarah Sepakbola inilah yang selalu ditanamkan oleh Sir Alex Ferguson kala menangani pasukannya.

Maka tak heran jika menyerang adalah ciri khas Manchester United Sejarah Sepakbola. Manchester United bukanlah klub bertahan, melainkan klub menyerang dengan segudang talenta yang diakui sebagai yang terbaik di dunia.

Namun, belakangan filosofi tersebut mulai luntur apalagi setelah Sir Alex Ferguson pension dari kursi pelatih Manchester United. Manchester United terlihat tidak lagi tajam, melempem, bahkan selalu kesulitan mencetak gol.

Permainan yang atraktif perlahan memudar menjadi membosankan dalam Sejarah Sepakbola.

Manchester United hanya berputar-putar menguasai bola selama mungkin tanpa harus tahu harus diapakan bola tersebut. Bila melihat ke belakang sedikit saja, semua masalah ini muncul di era pelatih Louis Van Gaal. Bukan bermaksud menghakimi, namun bila diadakan survey “siapakah pelatih yang paling defensive saat menangani Manchester United?

Permainan Manchester United di era Louis Van Gaal sangatlah membosankan dan tidak menarik untuk ditonton. Pernah suatu ketika saat pertandingan melawan Southampton yang berakhir 1-0 untuk kemenangan Southampton di Old Trafford, suporter Manchester United meneriakkan “serang, serang, serang, serang” Sejarah Sepakbola agar The Red Devils menyerang dan mencetak banyak gol.

Namun saying, harapan itu tidak dikabulkan oleh LVG (sebutan Louis Van Gaal). Manchester tetap bermain defensive dan kalah dengan skor tipis di depan publik sendiri, ya hal yang sangat memalukan dalam Sejarah Sepakbola.

Louis Van Gaal mencoba menerapkan strategi yang dia bawa kala menangani timnas Belanda di Piala Dunia 2014. Permainan total football dengan mengandalkan serangan balik.

Yang dilupakan oleh LVG adalah dia tidak memahami bahwa Manchester United tidak pernah menerapkan pola defensive yang sangat dalam hingga membuat semua pemain harus turun ke belakang menjadi pemain bertahan Sejarah Sepakbola.

Maksud hati ingin melakukan serangan balik tapi apa daya permainan yang membuat mata menjadi ngantuk yang terjadi.

Dalam beberapa pertandingan di 2 musim kepelatihan Louis Van Gaal, MU mendapatkan hasil yang sangat sulit dipercaya. Salah satunya saat digulung oleh tim divisi satu Liga Inggris MK Dons dengan skor 4-0, dan dihancur leburkan Leicester City dengan skor 5-3. Lagi-lagi permainan Sejarah Sepakbola yang tidak maksimal menjadi sebab kekalahan MU.

Tidak heran bila kini Manchester identic dengan jukukan “parking bus” klub karena strategi ini diterapkan oleh Louis Van Gaal kala itu dan membuat MU susah sekali “move-on” dari strategi Sejarah Sepakbola ini. Sangat disayangkan jika ciri khas tim tersukses di Liga Primer Inggris ini tergerus oleh strategi mantan pelatihnya sendiri dalam sejarah permainan judi sepakbola.

Nama besar yang diraih Manchester United karena hobinya menyeranag, mencetak banyak gol, dan meluluh lantakkan lawan dengan skor kemenangan meyakinkan kini mulai sirna Sejarah Sepakbola.

Jika sudah begini mampukah MU kembali ke identitasnya? Mampukah MU kembali menampilkan permainan impresifnya? Jika melihat hasil-hasil terkini pertandingan tim ini baik di kompetisi domestic maupun Eropa sulit memang. Namun tidak mungkin hal itu bisa terjadi dalam Sejarah Sepakbola.

Siapa yang tidak kenal Wayne Rooney? Legenda Manchester United, pencetak gol terbanyak Manchester United, pencetak hattrick termuda di kompetisi Eropa untuk Manchester United, dan masih banyak sederet penghargaan lainnya. Wayne Rooney adalah legenda Sejarah Sepakbola.

Setidaknya itulah gelar yang disematkan oleh pendukung Manchester United. Bagaimana tidak? Semenjak kedatangannya ke Old Trafford pada musim 2004, Rooney seakan menjelma menjadi bintang besar yang memang dilahirkan untuk bermain bagi Sejarah Sepakbola Manchester United.

Di awal musim Sejarah Sepakbola dia bermasin sebagai penyerang MU dia mampu mencetak hattrick (tiga gol) ke gawang fenerbahce dan menobatkannya sebagai pemain termuda yang mampu mencetak tiga gol di kompetisi Liga Chamipons Eropa.

Wayne Rooney memang tidak pernah melempem. Dia selalu tampil meyakinkan, spektakuler, fantastis, dan penuh dengan determinasi Sejarah Sepakbola tinggi.

Di musim pertamanya membela Manchester United, wonderkid yang ditransfer dari Everton ini langsung unjuk gigi dan mencetak tidak kurang 20 gol di semua kompetisi bagi Manchester United. Tampilan yang impresif itu juga dibarengi dengan permainannya yang selalu moncer bersama Christiano Ronaldo, Ruud Van Nistelrooy, Ryan Giggs, an sederet pemain hebat MU lainnya.

Sejarah Sepakbola Tak Terlupakan

Puncaknya di musim 2007, 2008, 2009 dia berhasil menggondol 3 gelar Liga Inggris bagi Manchester United. Sejarah Sepakbola Tidak hanya itu pada musim 2008, dia berhasil mempersembahkan gelar Liga Champions Eropa bagi MU.

Tampilan yang cenderung meningkat dari musim ke musim, menjadikan dia selalu diharapkan oleh para penggemar agar selalu tampil di setiap pertandingan. Alhasil, sepeninggal Sejarah Sepakbola Christiano Ronaldo pada musim 2009, Rooney menjadi juru gedor MU dan mencetak 34 gol pada musim 2010 dan mengantarkan MU finish sebagai runner-up di bawah Chelsea.

Namun, penampilan yang gemilang itu mulai luntur dari musim ke musim. Hal ini tidak lepas dari cedera yang terus menerus dideritanya. Penampilan yang semula impresif, [erlahan menurun. Wayne Rooney yang semula tajam kian tumpul dan kesulitan mencetak gol.

Tidak hanya itu, seringnya perubahan posisi yang diberlakukan padanya jug aturut andil menurunkan performanya. Karena kemapuannya yang sangat baik dalam membagi bola, dia keranp ditaik agak ke belakang menjadi gelandang serang ataupun gelandang tengah semenjak kedatangan Robin Van Persie ke Sejarah Sepakbola Manchester United di tahun 2012.

Rooney tidak hanya kehilangan catatan gol-golnya namun juga kehilangan “instinct” mencetak gol. Jumlah produktivitas yang terus menurun menjadi bukti betapa dia kehilangan jiwa Sejarah Sepakbola sebagai seorang striker murni yang dulu sangat lekat padanya.

Semenjak kepergian Sir Alex ferguson, Wayne Rooney justru makin sering dimainkan di posisi gelandang yang notabene bukan posisi Sejarah Sepakbola terbaiknya.

Seorang pemain yang serba bisa harus “kalah” bersaing dengan striker striker Manchester United lainnya karena kemampuannya yang multitasking tersebut. Semakin ditarik ke belakang, semakin hilang naluri pembunuh Wayne Roone.

Puncak dari penampilannya yang terus menurun membuat klub memutuskan untuk menjualnya ke Everton pada 2017 silam. Sang legenda yang mampu menaklukkan rekor Sir Bobby Charlton sebagai pencetak gol terbanyak dengan 253 gol, harus rela angkat koper Sejarah Sepakbola.

Wayne Rooney terbuang dari Manchester United karena tergerus oleh penampilannya yang semakin memburuk. Dan kini sang legenda terpaksa melanjutkan kariernya sebagai pemain sepakbola di Liga Amerika Serikat (MLS).

Memang Rooney tidak tampil seimpresif saat di Manchester United, namun perlahan tapi pasti dia kembali menemukan performa terbaiknya seperti saat di kala muda. Energik, ngotot, berani, dan pantang menyerah. Selamat menempuh petualangan baru Shrek!

Membicarakan AC Milan kita tidak bisa lepas dari membicarak sejarah klub ini. Klub di Liga Italia ini menjadi salah satu klub tersukses dengan raihan 17 trofi Liga Italia. AC Milan masuk dalam jajaran 7 klub terbaik bersama Juventus, Inter Milan, AS Roma, Lazio, Parma, dan Fiorentina Sejarah Sepakbola.

Deretan bintang-bintang ternama juga sempat memperkuat klub yang bermarkas di San Siro ini. Sebut saja Marco Van Basten, Ruud Gullit, Franco Baresi dan banyak Sejarah Sepakbola yang lainnya.

Generasi emas 90’an inilah yang membuat Milan begitu ditakuti di era tersebut. Tercatat selain sukses di Liga domestic, AC Milan juga merajai Liga Champions Eropa Sejarah Sepakbola.

Sejarah Sepakbola Modern

Bergeser ke era 2000’an saat AC Milan diperkuat oleh nama-nama mentereng macam Clarence Seedorf, Andrea Pirlo, Gennaro Gattuso, Andriy Shevchenko, dan Ricardo “Kaka”. Kesuksesan demi kesuksesan diraih AC Milan setidaknya pada era 90’an hingga 2000’an Sejarah Sepakbola.

Hal ini dibuktikan dengan meraih trofi Liga Italia pada 2004 dan 2011. Ditambah gelar juara Liga Champions Eropa pada 2003 dan 2007. Dominasi ini kian menegaskan status AC Milan sebagai salah satu tim terkuat Sejarah Sepakbola di Liga Champions Eropa.

Sepenggal cerita di atas menggambarkan betapa tangguhnya Rossoneri (julukan AC Milan) pada saat itu. Milan memang tidak pernah kehabisan talenta berbakat, tidak pernah kehabisan mental juara Sejarah Sepakbola. Namun, memasuki musim 2012 Milan seaakan tertidur.

Penurunan performa mulai melanda tim kota mode Sejarah Sepakbola ini. Banyak faktor yang menyebabkan penurunan performa tersebut dan berikut beberapa faktor penting yang menjadi pemicunya:

Krisis Keuangan Sejarah Sepakbola Milan tercatat mengalami krisis finansial pada tahun 2012. Tingginya gaji para pemain tidak sebanding dengan pendapatan Sejarah Sepakbola yang diperoleh klub.

Keuangan yang seret dan juga ditambah dengan kondisi krisis keuangan di Italia kala itu membuat Milan semakin sulit untuk mempertahankan Sejarah Sepakbola keuangannya agar tetap aman. Maka, mau tidak mau salah satu hal yang dapat dilakukan agar utang tidak makin menumpuk adalah menjual pemainnya.

Sebuah blunder yang harus diambil oleh Manajemen AC Milan kala itu adalah menjual 2 pemain kuncinya yaitu Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva hanya seharga 56 juta Euro ke klub Liga Perancis, PSG. Dan seperti yang sudah diprediksi dalam Sejarah Sepakbola.

Milan tidak mampu bersaing dengan Juventus maupun tim pesing lain dalam perebutan gelar juara Serie A di musim-musim berikutnya dalam Sejarah Sepakbola.

Manajemen Yang Buruk Silvio Berlusconi selaku presiden klub Milan menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas penurunan performa yang menimpa AC Milan.

Pengelolaan yang kurang baik berujung pada krisis finansal klub menyebabkan saham klub menurun. Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Silvio Berlusconi juga terbilang merugikan para penggemar sehingga membuat mereka tidak lagi mau datang ke stadion guna mendukung AC Milan berlaga.

Terlalu Sering Ganti Pelatih Milan memang memiliki sejarah gonta-ganti pelatih yang cukup panjang di Serie A Liga Italia.

Namun hal ini tidak separah yang terjadi kala dikelola oleh Berlusconi. Terhitung semenjak musim 2012 sejumlah nama silih berganti menjadi juru taktik AC Milan, sebut saja: Maximiliano Alegri, Clarence Seedorf, Filippo Inzaghi, Leonardo, hingga Gennaro Gattuso (Pelatih AC Milan saat ini).

Prestasi instan yang diharapkan lewat ganti pelatih rupanya tidak pernah tercapai. Yang terjadi justru sebaliknya, Milan kian meroket jatuh dan kehilangan nama besarnya sebagai klub raksasa Italia.

Pertanyaannya kini, mampukah Gennaro Gattuso mengembalikan kejayaan Sejarah Sepakbola AC Milan? Sebagai legenda klub yang mentereng dengan sejumlah gelar, Gennaro Gattuso diharapkan mampu menualarkan mental juaranya kepada seluruh pemain asuhannya dalam sejarah masuknya sepakbola ke indonesia.

Mampukah? Kita nantikan saja seberapa jauh Gattuso mampu menghalau badai yang menimpa AC Milan selama masa Sejarah Sepakbola kepelatihannya nanti.

Sejarah Sepakbola

Sejarah Sepakbola

Sejarah Sepakbola Abad 20

Legenda umumnya disematkan kepada para pemain sepakbola yang menorehkan catatan impresif, rekor tak terpecahkan, atau capaian dedikasi yang luar biasa karena memperkuat sebuah klub Sejarah Sepakbola selama karier sepakbolanya.

Fenomena legenda satu klub ini mulanya banyak ditemui di era 80-90’an ketika seorang pemain rela mengabdikan seumur hidup karier sepakbolanya hanya untuk bermain di satu klub saja. Sebut saja Frans Beckenbuer yang menajdi legenda klub Bayern Munchen. Fransesco Toldo di Inter Milan, Gianfranco Zola di Chelsea, ataupun Pavel Nedved di Sejarah Sepakbola Juventus.

Namun, di era sepakbola modern tipis sekali perbedaan antara “legenda” dan “penghiaanat” karena banyak sekali pemain yang dijadikan sebagai legenda dan simbol sebuah klub, mereka menyeberang ke klub rival. Siapa saja mereka? Ini dia:

Luis Figo Sejarah Sepakbola Gelandang ternama asal Portugal ini memiliki vis bermain yang ciamik dan membuat Barcelona kepincut serta meminangnya dari Sporting pada tahun 1995. Figo bermain selama 5 musim di Barcelona dengan torehan 30 gol dari 172 kali tampil sebagai starter.

Hal yang mengejutkan terjadi pada musim 2000 saat Figo memutuskan untuk hijrah ke klub rival yaitu Real Madrid. Para fans Barcelona Sejarah Sepakbola sangat kecewa dan marah. Puncaknya terjadi ketika pertandingan El Classico antara Barcelona melawan Real Madrid Figo dilempari kepala babi. Hal ini sebagai ungkapan kekecewaan fans pada sikap Figo yang memilih hengkang ke Real Madrid, rival abadi Barcelona.

Ronaldo Nazario De Lima Siapa yang tidak kenal dengan Ronaldo De Lima. Bagi generasi 90’an dia adalah sosok idola dan teladan Sejarah Sepakbola bagaimana menjadi penyerang yang mematikan di depan gawang lawan. Skill yang dimiliki Ronaldo berbanding lurus dengan kemampuannya dalam mengeksekusi bola-bola yang ditujukan kepadanya.

Selama kariernya di tercatat sebagai pemain yang mampu tampil di El Classico dan Derby Della Madonina dengan 2 klub rival yang berbeda Sejarah Sepakbola. Ya, Ronaldo pernah membela Barcelona pada musim 1996/1997 dengan torehan 34 gol dari 37 penampilan dalam video gol terbaik dalam sejarah sepakbola.

Usai dari Barcelona dia bergabung dengan Inter Milan dari tahun 1997-2002 dengan torehan 49 gol dari 68 penampilan. Tidak berhenti disitu Sejarah Sepakbola. Ronaldo menyeberang ke Real Madrid pada tahun 2002-2007 dan mencetak 83 gol. Sebelum akhirnya berlabuh ke AC Milan pada 2007-2008 dengan torehan 9 gol.

Hebatnya dia tidak memiliki haters seperti yang dialami oleh pendahulunya, Luis Figo. Teratat dia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti yang diterima Luis Figo.

Andrea Pirlo mendapat julukan sebagai salah satu maestro sepakbola dengan IQ tertinggi. Sebuah julukan yang didapatkan karena visi bermainnya yang begitu cerdas Sejarah Sepakbola. Bagaimana dia mengalirkan bola, membuka ruang bagi pemain lain, dan mencetak gol melalui tendangan bebasnya.

Tidak hanya visi bermainnya yang diingat oleh para penggemar sepakbola, melainkan klub -klub yang pernah dibelanya. Andrea Pirlo pernah membela Inter Milan dari tahun 1998-2001 dalam Sejarah Sepakbola. Kemudian Pirlo dipinang oleh rival sekota Inter yaitu AC milan, dan menjadi salah satu gelandang terbaik AC Milan mulai 2001-2011.

Selama di AC Milan Pirlo memperoleh 2 gelar Liga Champions Eropa, dan 2 trofi Liga Serie A Italia. Namun, Pirlo tidak menutup karier di AC milan karena pada tahun 2011 dia dipinang oleh Juventus dan mendedikasikan karier sepakbolanya selama 4 musim disana dengan torehan Supercopa Italia, Serie A Italia, dan memimpin Italia ke final Euro 2012 di level klub Sejarah Sepakbola.

Well, para fans bola, lebih layak disebut legenda klub manakah nama-nama di atas? Atau lebih tepat disebut penghianat?

Sejarah Sepakbola Dari Amerika Latin

Amerika Latin adalah salah satu area Sejarah Sepakbola yang paling sering mengeluarkan pemain-pemain sepakbola kelas dunia. Tidak jarang klub-klub papan atas liga-liga Eropa selalu menggunakan jasa para pemain Amerika latin ini dalam menjalani kompetisi domestik di liganya masing-masing.

Pemain-pemain ini biasanya memberikan catatan yang sangat luar biasa. Baik dari segi prestasi maupun segi finansial klub Sejarah Sepakbola. Sebut saja seperti Lionel Messi, Angel di Maria, Luis Suarez, Edinson Cavani, ataupun Neymar.

Mereka selalu menyajikan permainan yang atraktif dan penuh dengan skill individu sebagai tanda bahwa mereka bukan hanya bermain sepakbola, melainkan melakukan sihir dengan skill Sejarah Sepakbola yang dimilikinya. Baiklah, berikut ini akan disajikan para talenta sepakbola terbaik Sejarah Sepakbola dari Amerika Latin yang berkiprah di Liga-Liga Eropa, siapa saja mereka? Ini dia:

Jebolan La Massia (akademi Barcelona) ini menjadi salah satu talenta terbaik abad ini.

Kemampuan individu Sejarah Sepakbola yang mumpuni, keahlian olah bola, menggocek lawan, dan mencetak gol menjadi bakat yang dimilikinya sejak bergabung ke akadaemi Barcelona tersebut.

Sempat didiagnosa memiliki kelainan hormone Sejarah Sepakbola yang membuatnya tidak bisa tumbuh tinggi, Messi membuktikan diri sebagai pemain terbaik abad ini dengan torehan 27 gelar bersama Blaugrana (sebutan Barcelona).

Tidak hanya itu torehan berbagai gelar individu juga menghiasi lemari trofinya. Yang paling dicatat tentu peroleh 5 Ballon D’Or miliknya.

Neymar salah satu talenta terbaik dari Amerika latin lainnya adalah Neymar. Pemain kelahiran Brasil ini sebelumnya membela Santos dan didatangkan ke Barcelona Sejarah Sepakbola dengan mahar senilai 57 juta Euro atau setara 912 juta Rupiah. Selama membela Barcelona dia berhasil mempersembahkan 7 gelar bergengsi.

Selain itu bersama Lionel Messi dan Luis Suarez Neymar menjelma menjadi trisula paling berbahaya di La Liga dan kompetisi Eropa Sejarah Sepakbola. Tidak ada yang mampu menandingi keperkasaan tiga penyerang maut Barcelona ini.

Sayangnya, karier Neymar di Barcelona tidak bertahan lama. Bukan karena cedera parah sehingga pension dini, melainkan karena dia pindah ke Paris Saint Germain pada 2017 silam dengan mahar senilai 222 juta Euro atau setara 3,5 triliun Rupiah dan menjadikannya sebagai pemain termahal di dunia dalam sejarah terbentuknya pssi.

Sebuah rekor Sejarah Sepakbola yang fantastis dan mungkin tidak akan terpecahkan dalam beberapa dekade ke depan.

Sergio “Kun” Aguero Salah satu talenta terbaik yang dimiliki Amerika latin di Liga Eropa adalah “Kun” Aguero. Menantu Diego Maradona ini telah membela panji Manchester City sejak musim 2011-2012 silam dalam Sejarah Sepakbola. Kini Aguero menjadi legenda klub Manchester City karena catatan golnya yang luar biasa impresif.

Kini dia telah mengoleksi lebih dari 200 gol dan membuatnya bertengger di puncak daftar penyerang Manchester City paling subur sepanjang sejarah klub Sejarah Sepakbola. Selama di Manchester City Aguero telah berhasil mempersembahkan 3 gelar Liga Primer Inggris.

Sergio Aguero juga dinobatkan sebagai salah satu pemain dengan caps terbanyak di timnas Agentina. Masih banyak sebeneranya nama-nama talenta asal benua latin yang luar biasa. Namun, tidak semuanya mampu memberikan kontribusi yang signifikan di klub masing-masing.

Sejarah Sepakbola Pemain Muda Gagal

Kebanyakan para talenta ini mengalami penurunan performa permainan karena tingginya ekspektasi klub dan para penggeemar Sejarah Sepakbola kepada dirinya.

Terlepas dari mereka gagal atau bersinar di liga-liga top Eropa pemain benua latin selalu menghadirkan kisah magis yang luar biasa dalam membumbui setiap persaingan di liga-liga Eropa Sejarah Sepakbola.

Menjadi pemain muda di klub sepakbola ternama bagaikan dua sisi mata pisau, di satu sisi positif dan di sisi lainnya negatif. Positif karena dapat meningkatkan jam bermain dan memperoleh pengalaman sebanyak-banyaknya sebelum menjadi pemain besar di masa mendatang nanti.

Negative karena kadang ekspektasi yang terlalu tinggi menyebabkan pemain tersebut gagal bersinar dan puncaknya kariernya meredup. Jam terbang adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh pemain muda.

Semakin tinggi jam terbang, semakin banyak kesempatan unjuk gigi dan menunjukkan pada manajer klub bahwa sang pemain layak masuk tim utama di pertandingan-pertandingan selanjutnya.

Namun, formasi yang diterapkan oleh seorang pelatih juga mempengaruhi apakah seorang pemain muda masih memiliki “masa bakti” di klub yang bersangkutan. Berikut ada beberapa nama pemain muda yang justru tenggelam karena minimnya jam bermain. Siapa saja mereka? Ini dia daftar namanya dalam sejarah perkembangan sepakbola indonesia:

Marko Marin Talenta muda Jerman ini adalah salah satu pemain muda yang tenggelam karena ekspektasi yang terlalu tinggi dan kurangnya jam bermain.

Memulai karier di Werder Bremen dan menunjukkan permainan yang mengagumkan, pemandu bakat Chelsea berhasil menemukan talentanya dan memboyongnya ke Chelsea pada 2012.

Dan sebuah ekspektasi tinggi yang disematkan kepadanya rupanya gagal diemban dengan baik. Chelsea yang kala itu dilatih oleh Andres Villas Boas kurang yakin dengan gaya bermain yang dimilikinya.

Selain itu dia juga dirundung cedera yang justru kian memperburuk kondisinya di Chelsea.

Puncaknya pada tahun 2013 dia dipinjamkan ke Sevilla, hingga akhirnya dia menghabiskan masa bermainnya dengan berpindah-pindah klub sebgai pemain pinjaman Chelsea.

Pada akhirnya, kini Marko Marin hanya menghabiskan kariernya sebagai pemain salah satu klub Yunani, Olympiakos. Diakui atau tidak ini adalah degradasi karier.

Memulai karier sebagai pemain Manchester United di usia 18 tahun, kariernya bak roller coaster. Di awal kepelatihan David Moyes, suksesor Sir Alex Ferguson di MU, Adnan mendapat kepercayaan penuh selalu tampil sebagai starter.

Tercatat dia menjadi salah satu pemain kunci MU di saat itu. Winger lincah ini selalu tampil mengagumkan di setiap pertandingan. Masalah Adnan mulai muncul saat Louis Van Gaal menangani Manchester United. Dia mulai jarang dimainkan, posisinya digantikan oleh gelandang senior Juan Mata.

Antiklimaks karier Adnan di MU terjadi saat dilatih MU dilatih oleh Jose Mourinho. Dia tidak lagi mendapat tempat di skuad MU dan dijual ke Real Sociedad.

Meskipun kini Adnan tetap tampil apik di Liga Spanyol dan masuk sebagai pemain timnas Belgia, rangkaian kariernya cukup untuk menjadikannya sebagai salah satu talenta muda yang tenggelam.

Jebolan akademi La Massia ini merupakan produk asli akademi Barcelona. Skill yang dimiliki dan bakat yang dibawanya semenjak lahir membuat Bojan sebagai anak muda dengan harapan cerah di era sepakbola modern.

Digadang-gadang akan menjadi tandem Lionel Messi di lini serang Barcelona, dia justru meghabiskan waktu bermain sebagai pemain pinjaman. Banyak pengamat menilai gaya bermain Bojan yang tidak cocok dengan gaya main Barcelona.

Usai berpindah-pindah klub dan makin tidak mendapat jam main di Brcelona, Bojan akhirnya menetap  sebagai pemain Stoke City dan berkompetisi di Liga Primer Inggris. Ironisnya, klub yang dibelanya degradasi ke divisi Championship (setara divisi dua) Sejarah Sepakbola.

Ironis yang harus diterima oleh salah satu talenta terbaik yang gagal bersinar. Jika sudah begini seharusnya klub lebih memperhatikan keberlangsungan karier pemain mudanya di masa depan Sejarah Sepakbola.

Pemain Paling “Kaca” Sejarah Sepakbola

Istilah “kaca” erat kaitannya dengan sesuatu yang mudah pecah. Sama seperti sifat kaca yang langsung pecah ketika menerima benturan dengan benda keras.

Dan ketika kaca Sejarah Sepakbola tersebut sudah pecah tentu perlu ditambal ataupun digabungkan kembali agar fungsi awalnya kembali. Lalu apa kaitan kaca dengan pemain sepakbola?

Merujuk pada definisi di atas maka berhubungan dengan pemain yang rentan sekali dengan cedera, mudah sekali cedera.

Sepanjang gelaran liga sepakbola Sejarah Sepakbola di berbagai belahan dunia ada sejumlah nama yang “bersaudara” dengan cedera. Baik itu cedera jangka pendek, jangka menengah, atau jangka panjang. Siapa saja mereka? Inilah dia daftarnya Sejarah Sepakbola:

Nama yang satu ini sangat akrab dengan cedera. Bahkan banayak fans sepakbola yang mengenal Robben bukan karena skillnya melainkan cederanya yang terus menerus terjadi Sejarah Sepakbola. Riwayat cedera Robben dimulai ketika dia membela Chelsea.

Di bawah asuhan Jose Mourinho kala itu Robben adalah sala satu kunci sukses Chelsea menjadi penguasa Liga Inggris Sejarah Sepakbola. Namun, di saat yang sama pula cederanya juga tak bisa dipungkiri beberapa kali menghambat kariernya di Chelsea.

Riwayat cedera Robben tidak separah kala dia masih membela PSV Eindhoven namun, grafik penampilannya juga ikut terpengaruh cedera tersebut.

Meskipun begitu harga Arjen Robben yang masih tinggi kala itu akhirnya membaut manajemen Chelsea memutuskan untuk menjualnya ke Real Madrid Sejarah Sepakbola.

Dan kisah cedera tersebut rupanya tidak berakhir, Robben tetap mendapatkan cedera-cederanya terus menerus. Hingga akhirnya di dijual ke Bayern Munchen Sejarah Sepakbola.

Legenda Arsenal ini juga masuk dalam daftar pemain yang paling sering cedera. Hal ini dimulai saat dia membela Arsenal Sejarah Sepakbola. Masuk menjadi pemain Arsenal pada musim 2004, Van Persie bermain untuk The Gunners (julukan Arsenal) selama 8 musim sebelum akhirnya hijrah ke klub Manchester United Sejarah Sepakbola.

Yang paling dibcarakan dari sosok Van Persie bukanlah kepiawaiannya dalam melakukan tendangan voli ataupun meluluh lantakkan pertahanan lawan, melainkan cedera terus menerus yang menimpanya. Pernah dalam satu musim di Arsenal dia hanya tampil tidak lebih dari 50 kali karena masalah cedera Sejarah Sepakbola tersebut.

Cedera Sejarah Sepakbola yang dialami Van Persie adalah cedera kambuhan yang sering tiba-tiba terulang lagi dan lagi manakala dia mendapat benturan, hanaman, ataupun ganjalan dari pemain lawan di Liga. Tidak khayal, cederanya juga terus kambuh selama bermain di Manchester United.

Puncaknya pada 2016 Van Persie dijual ke klub Loga Turki Fenerbahce. Bukan hanya karena cedera Sejarah Sepakbola yang terus menerus menimpanya, melainkan juga fisiknya yang terus menurun dan naluri mencetak golnya yang mulai hilang dalam Sejarah Sepakbola.

Talenta muda timnas Jerman Sejarah Sepakbola yang satu ini juga erat sekali dengan cedera. Pemain Borussia Dortmund ini juga lebih sering menghabiskan waktu di meja operasi daripada bermain di lapangan hijau.

Apabila dirata-rata dalam satu musim kompetisi, dia hanya memghabiskan waktu kurang dari 4 bulan untuk bermain, sisanya ya bisa ditebak di ruang operasi Sejarah Sepakbola masuk ke indonesia.

Ironi yang paling menyakitkan dari karier Marco reus adalah saat dirinya gagal tampil di EURO 2016 karena cedera yang menimpanya h-1 bulan sebelum gelaran event 4 tahunan tersebut. Hasil itu membuat dia gagal tampil Sejarah Sepakbola di EURO 2016.

Mengecewakan mungkin bagi Marco Reus karena dia harus merelakan kesempatan yang belum tentu akan dia dapatkan lagi di masa-masa Sejarah Sepakbola mendatang hilang begitu saja dalam sejarah kartu kuning dan merah dalam sepakbola.

Melihat dari daftar Sejarah Sepakbola di atas mungkin 3 nama tadi adalah peringkat tiga teratas pemain “kaca” paling favorit di jagad sepakbola. Bagaimana tidak prestasi cederanya jauh lebih banyak daripada prestasi di level klub maupun timnas Sejarah Sepakbola.

Meskipun tidak dipungkiri kontribusi yang mereka berikan baik untuk klub dan timnas Sejarah Sepakbola juga sangat signifikan dan selalu dinantikan dalam Sejarah Sepakbola.

You cannot copy content of this page